Rabu, 24 Oktober 2012

tugas teori ekonomi


Analisis Jurnal

An Economic Analysis Of Raising Fuel Price In Indonesia
   


Oleh :
SMAK-05

Hapsari Widayani (23211213)
                                                            J. Asfirotun ( 27211827)
Siti Iqlima Zeinia (26211808)





Tema
Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar

Pengarang
Catur Sugiyanto


Judul Jurnal
An Economic Analysis Of Raising Fuel Price In Indonesia


Latar Belakang

Dewasa ini permasalahan mengenai dampak kenaikan harga BBM sudah menjadi ulasan pokok bagi masyarakat umum. Diperlukan kerangka kerja yang kuat untuk menganalisis dampak kenaikan harga BBM terhadap perekonomian Indonesia. Focus masalah di titikberatkan kepada cara pemerintah mengatasi permasalahan tersebut agar tidak berdampak buruk bagi perekonomian di Indonesia. Dampak yang di sebabkan oleh kenaikan BBM memang sangat besar seperti kenaikan terhadap biaya produksi dan kualitas udara juga berpengaruh.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak mengkonsumsi bahan bakar minyak maka akan menimbulkan efek yang kurang baik terhadap kesehatan lingkungan. Dan bila pemakaian yang berlebih akan menimbulkan efek terhadap inflasi Negara karena akan membuat anjlok mata uang Negara konsumen akibat pembelian bahan bakar minyak meningkat. Kenaikan bahan bakar minyak sarat akan penuntutan pengurangan polusi udara. Maka banyak negara – negara yang berusaha mencari alternatif agar pemakaian BBM bisa diminimalisir dan mencari BBM yang memiliki kandungan polutan yang lebih rendah.
Oleh sebab itu pemerintah menetapkan suatu kebijakan agar bahan bakar minyak tetap normal stocknya dan harganya juga tidak terus menerus naik. Selain itu, pemerintah mencegah agar pemakaian akan bahan bakar minyak menjadi rendah supaya tidak memperbanyak polusi. Adapun dampak dari kebijakan pemerintah tersebut adalah perubahan pada pemeriksaan anggaran pemerintah Indonesia. Pemeriksaan itu terjadi perubahan yaitu saat pemeriksaan terhadap pemasukkan pendapatan pemerintah, baik dari pendapatan langsung dari minyak serta sektor gas alam dan pendapatan yang berasal dari perpajakan. Yang terakhir adalah kebijakan harga BBM ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas udara yang bermanfaat bagi manusia.

Masalah

Permasalahan yang diangkat dalam jurnal ini yaitu bagaimana cara pemerintah menganalisis dan mengatasi dampak kenaikan BBM yang terjadi di Indonesia. Menganalisis apakah dampak kenaikan BBM tersebut berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia atau sama sekali tidak berpengaruh. Selain itu pemerintah harus mencari alternative untuk mengurangi polusi yang terjadi akibat pemakaian bahan bakar minyak (BBM) yang relative tinggi. Bila pemakaian itu terus terjadi maka akan menimbulkan permasalahan terhadap kesehatan bagi masyarakat di Indonesia.

Metodologi

Data:
Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data sekunder  yaitu data yang diperoleh dari penulisan orang-orang yang telah melakukan penelitian terlebih dahulu.
Variabel:
Variabel yang di gunakan dalam jurnal ini adalah menganalisis bahan bakar pengganti dan dampak naiknya harga bahan bakar terhadap biaya produksi. Selanjutnya juga membahas objek dan prinsip mengenai kebijakan perminyakan di Indonesia. Perkiraan mengenai elastisitas bahan bakar pengganti juga termasuk didalamnya. Serta dampak naiknya harga bahan bakar terhadap pengeluaran pemerintah Indonesia.

Hasil Analisis

Pembahasan yang pertama mengenai analisis bahan bakar pengganti dan dampak naiknya harga bahan bakar terhadap biaya produksi. Dalam hal ini prinsip umum dalam menangani konsumsi bahan bakar berlebihan adalah dengan memberikan pajak terhadap pemakai bahan bakar. Namun pajak itu terlalu tinggi sehingga menyusahkan masyarakat. Masalahnya polusi disebabkan oleh banyaknya kendaraan dan pabrik. Untuk itu perlu adanya alternatif lain yaitu membuat aturan standar terhadap bahan bakar dan mengganti bahan bakar tersebut.
Ada dua konsep elastisitas permintaan terhadap harga bahan bakar. Pertama adalah mempertimbangkan pengganti bahan bakar terhadap agregat energi lainnya yang tetap. Kedua, pengganti antara input dan keduanya ketika output berada dalam posisi tetap tapi agregat energi dan agregat lainnya berubah. Hubungan antara dua elastisitas permintaan tersebut adalah:


Dimana Eij (E tetap) menggambarkan harga keseimbangan dibawah asumsi bahwa terpakainya agregat energi. E tetap dan Eeeadalah elastisitas dari agregat energi dengan asumsi Pe. Rumus tersebut bisa digunakan untuk menganalisis dampak dari perubahan harga terhadap emisi. Elastisitas diatas mengharuskan kita fokus pada bahan bakar pengganti untuk menggantikannya. Salah satunya bisa digunakan dalam perubahan harga untuk agregat energi, jadi Pe adalah tetap sedangkan yang lain berubah.
Tahun 1980-1981, industri minyak indonesia menyediakan lebih dari 70% pendapatan pemerintah dalam negeri dan 82% dari pendapatan hasil ekspor. Angka ketergantungan tertinggi saat minyak menjadi kelemahan utama selama beberapa tahun setelah harga minyak negara mulai tetap dan tiba-tiba turun ditahun 1986. Hal ini membuktikan bahwa hal yang terpenting adalah pertukaran asing dan pendapatan fiskal. Menyaring minyak tanah 15% dari total pendapatan ekspor di tahun 1994 dan anggaran pendapatan dari perusahaan minyak 16.1% dari pendapatan pemerintah dalam negeri pada tahun 1994/1995. Terlihat pada strategi pemerintah indonesia dan beberapa kasus dari sektor tertentu yaitu:
a. Mengefisiensikan bahan bakar dengan biaya rendah. Bisa juga dengan cara menggantikannya dengan minyak tanah sebagai alternatif lainnya.
b. pergerakan sumber harus objektif. Hal ini berguna untuk memaksimalkan pendapatan modal asing dan anggaran pendapatan dalam negeri.
c. objektif sosial yaitu masyarakat harus menyadari bahwa bahan bakar sudah terbatas. Kita harus hemat dan memakai energi yang ada dengan sebaik-baiknya. Pemerintah pun membantu membuat bahan bakar baru seperti diesel untuk digunakan masyarakat.
d. memandang lingkungan dengan objektif. Berpikir objektif dengan cara meningkatkan produktivitas dan nilai guna pada penggunaan energi dapat membantu generasi berikutnya.
Tabel berikut ini melaporkan penelitian Eskeland mengenai elastisitas harga bahan bakar sektor manufaktur.


Tabel tersebut menunjukan harga keseimbangan yang secara umum mempunyai nilai absolut, berkisar dari -83 hingga -1.5 untuk batu bara. Dampak dari penggantinya akan memicu naiknya permintaan untuk bahan bakar bersih dalam kaitannya dengan harga bahan bakar kotor. Oleh karena itu pemerintah mungkin yang memicu naiknya bahan bakar bersih dengan menaikan bahan bakar kotor secara relatif tanpa beberapa dampak utamanya dalam biaya produksi.
Dampak naiknya bahan bakar minyak dalam kaitannya dengan pengeluaran pemerintah adalah ada dua perbedaan dalam hubungannya antara sektor energi dan anggaran pemerintah. Hal yang paling nyata adalah aliran pendapatan dari minyak dan sektor gas alam cair untuk pengeluaran pemerintah. Awalnya pendapatan minyak dan ekspor gas masih menjadi yang terbesar. Lalu terjadi perubahan pada sistem pajak langsung dan pengendalian regulasi pemerintah. Produksi bahan bakar untuk menambah nilai pajak dan termasuk didalamnya komponen retail.
Analisis mengenai dampak naiknya harga bahan bakar dalam negeri mempengaruhi kesejahteraan. Dampaknya juga terjadi pada penurunan surplus konsumen dan kesejahteraan masyarakat terhadap kualitas bahan bakar dan udara yang baik. Secara umum pembagian besar-besaran akan berpengaruh pada jumlah pengeluaran dan kehilangan kesejahteraan.

Kesimpulan

Saat ini jumlah bahan bakar sangat terbatas khususnya bahan bakar minyak. Semua orang memakainya setiap hari. Konsumsi BBM pun terus meningkat. Sedangkan persediaan tidak terlalu banyak. Untuk itu pemerintah menaikan harga bahan bakar agar masyarakat tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Namun dengan adanya kebijakan seperti itu menimbulkan hilangnya surplus konsumen dan berkurangnya permintaan. Cara agar masyarakat sejahtera dan tidak kehabisan sumber daya adalah dengan memakainya secara efektif dan efisien. Selain itu gunakan alternatif lain sebagai gantinya. Misalnya saja diesel. Gunakan sumber daya lain agar tidak menghabiskan sumber daya minyak.

Jumat, 19 Oktober 2012

tugas teori ekonomi


Mengukur  Inflasi  dengan  Indeks  Harga  dan
Perhitungan  Antara GDP  Deflator  –  Consumer Price Index (CPI)




Disusun Oleh :
SMAK-05

1.       Hapsari Widayani (23211213)
2.        J. Asfirotun ( 27211827)
3.       Siti Iqlima Zeinia (26211808)





       I.            Pendahuluan
Dewasa ini pembahasan mengenai perekonomian sangat erat kaitannya dengan membahas inflasi. Inflasi itu sendiri di definisikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Atau dengan kata lain, inflasi adalah proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Sedangkan Deflasi adalah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah.

Inflasi digolongkan menjadi  4 macam, yaitu :
·         Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun.
·         Inflasi sedang antara 10%—30% setahun
·         Inflasi berat antara 30%—100% setahun; dan
·         Hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

 Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator. Cara perhitungan CPI dan Deflator adalah sebagai berikut :

v  CPI (Consumer Price Index)
Σ P0 Q0                                                        Î£ P1 Q0
Σ P0 Q0                  atau               Î£ P0 Q0


v  GDP Deflator
Σ P0 Q0                                atau                 Î£ P1 Q1
Σ P0 Q0                                                   Î£ P0 Q1

     II.            Hasil Analisis
Berikut adalah data Produksi Perusahaan Susu Sapi Perah tahun 2000-2009
Produksi Susu
Jumlah (000 Ltr)
Nilai (Juta Ltr)
2000
34,290.80
55,826.83
2001
351,717.80
59,815.11
2002
37,013.33
65,969.26
2003
31,639.38
59,634.51
2004
34,102.13
67,347.55
2005
33,041.83
73,827.14
2006
39,680.25
89,454.68
2007
45,036.63
125,831.68
2008
19,439.21
60,151.99
2009
19,210.49
59,535.43
            
          Dari data diatas dihitung Indeks Harga Konsumen dan PDB Deflator. Hasilnya sebagai berikut:




Menurut data diatas, setelah dihitung Indeks Harga Konsumen (CPI) dan PDB Deflator (GDP Deflator diperoleh grafik yang menunjukan perubahan dari keduanya.

Deflator PDB adalah analog dari indeks harga konsumen (CPI) dan menunjukkan perubahan dalam tingkat harga semua barang milik PDB. Untuk perhitungan deflator, berbagai barang dan jasa yang terpilih, dan perhitungan ini meliputi tidak hanya harga barang-barang dan jasa, tetapi juga harga untuk barang-barang investasi, barang dan jasa yang dibeli oleh pemerintah maupun barang dan jasa yang diperdagangkan di pasar dunia.
Deflator adalah indeks harga agregat bertujuan untuk penghapusan dampak harga dan penentuan dinamika volume fisik indikator nilai gabungan:
1. PDB secara keseluruhan,
2. PDB menurut sektor ekonomi,
3. PDB dari daerah pengguna terakhir,
4. PDB dari total pendapatan negara dan sosial kelompok tertentu.

Berbeda dengan indeks harga konsumen, PDB deflator tidak diukur pada barang yang tetap melainkan pada struktur saat produksi. Harus diingat bahwa GDP deflator yang berbeda mencerminkan barang dan jasa selama bertahun-tahun, sehingga deflator tiap tahun berbeda dan tidak sama. Berbeda dengan deflator, indeks harga konsumen (CPI) menunjukkan dinamika biaya perhitungan barang dan jasa yang sama. Itu sebabnya secara akurat mencerminkan biaya satu perhitungan dari waktu ke waktu.
Dari grafik diatas terlihat bahwa CPI ddan GDP Deflator tersebut mengalami fluktuasi. Pada tahun awal (2000) terjadi persamaan hasil CPI dan GDP Deflator yaitu 1%. Lalu CPI mengalami kenaikan pada tahun 2001 sampai tahun2002. Begitu pula dengan GDP Deflator. Setelah itu pertengahan tahun 2002 sampai tahun 2004 nilainya keduanya turun. Tahun 2004 GDP Deflator mengalami kenaikan tajam. Sebaliknya, CPI mengalami kenaikan secara perlahan-lahan. Awal tahun 2006 keduanya mulai beranjak naik. Hingga pertengahan tahun 2006 CPI naik drastis hingga 2,253964268%. Berbeda dengan GDP yang naik hanya 1,40665284%. Kenaikan CPI dan GDP Deflator diakibatkan oleh kenaikan harga. Hal ini mengakibatkan tingkat inflasi meningkat.

III. Kesimpulan
Dari data diatas terlihat perubahan tingkat inflasi melalui dua cara yaitu CPI dan GDP Inflator. Jika memakai cara CPI terlihat jelas kenaikan tingkat inflasinya secara perlahan-lahan. Namun keduanya bisa menggambarkan kenaikan atau penurunan inflasi. Menurut data diatas, dari tahun 2000 hingga tahun 2009 terjadi tingkat perubahan inflasi. Hal ini disebabkan oleh perubahan harga. Jika harga naik, inflasi pun terjadi. Jika dilihat dari grafiknya, tingkat inflasi meninggi pada tahun 2007.

Sumber:
http://www.mafiaforex.com/id/2011/04/indikator-makro-ekonomi-deflator-pdb/
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=3&tabel=1&daftar=1&id_subyek=24&notab=4

Kamis, 18 Oktober 2012

tugas teori ekonomi


Hubungan Sektor Luar Negeri dengan Rumah Tangga

Dalam pasar barang dan jasa hubungan antara rumah tangga dan luar negeri  adalah impor barang dan jasa.  Permintaan umumnya berasal dari sektor rumah tangga dan  pemerintah.  Dan penawaran dari berasal dari perusahaan. Sektor rumah tangga terkadang lebih memilih impor barang dari luar negeri sebagai pemenuhan kebutuhan hidup, selain dilihat dari faktor harga, kelangkaan barang dan jasa di dalam negeri juga mempengaruhi impor tersebut.  
Dalam pasar tenaga kerja interaksi antara sektor rumah tangga dan luar negeri  adalah penawaran dan permintaan Tenaga Kerja. Banyaknya permintaan akan tenaga kerja menyebabkan peningkatan minat untuk menjadi tenaga kerja di luar negeri sebagai contohnya di Negara Indonesia. Banyak masyarakat yang memilih untuk menjadi tenaga kerja Indonesia atau tenaga kerja wanita. Dampak dari banyaknya masyarakat yang berminat menjadi TKI atau TKW adalah menambah pendapatan masyarakat atau pendapatan mereka sendiri sehingga banyak diantara mereka yang berusaha untuk pemenuhan kebutuhan sehari – hari.


tugas analisis jurnal



Menganalisis Jurnal Ekonomi


1.     Tema, Pengarang, Tahun Pembuatan Jurnal
Tema                                 : Lingkungan Bisnis  di Afrika
Pengarang                          : Benn Eifert, Alan Gelb, dan Vijaya Ramachandran
Tahun Pembuatan Jurnal     : 2005

2.     Judul                                     
Judul Jurnal                       :  Business Environment and Comparative Advantage in Africa: Evidence from the Investment Climate Data

3.     Latar Belakang                                

Dewasa ini pertumbuhan perekonomian di Afrika selalu mengalami keterlambatan. Hal ini disebabkan karena banyak faktor – faktor yang menghambat pertumbuhan di Afrika. Beberapa faktor yang dapat disimpulkan adalah karena adanya segmentasi antara ukuran produktivitas dan etnis dan kesenjangan antara investor dan masyarakat biasa. Segmentasi ukuran produktivitas dan etnis ini berhubungan dengan cara bagaimana etnis – etnis di Afrika memenuhi produktivitas. Etnis yang memiliki peran paling penting di Afrika dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi sehingga banyak diantara mereka yang memiliki pendapatan yang lebih tinggi dan lebih maju daripada etnis – etnis yang lain. Selain faktor tersebut terdapat faktor yang lain yaitu kesenjangan antara investor dan masyarakat. Kesenjangan investor dan masyarakat terjadi karena terdapat pemahaman yang kurang dari masyarakat mengenai cara investor untuk menanamkan saham mereka. Bila kedua faktor ini terus terjadi maka akan selalu menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, dilakukan riset oleh beberapa peneliti untuk menekan masalah keterlambatan pertumbuhan perekonomian tersebut.


4.     Masalah                   
Permasalahan  yang diangkat dalam jurnal ini yaitu banyak perusahaan swasta di Afrika tidak dapat berkembang dengan baik karena sebagian perekonomian di Afrika selalu di kuasai oleh pemerintah dan investor. Jadi masyarakat di Afrika tidak bisa mengembangkan usaha yang mereka punya. Hal ini menyebabkan ekspor di Afrika naik namun berdampak negative bagi masyarakat. Dampak tersebut adalah naiknya biaya kebutuhan sehari – hari di Afrika.


5.     Metodologi              
·         Data                      : Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data sekunder  yaitu data yang diperoleh dari penulisan orang-orang yang telah melakukan penelitian terlebih dahulu.
·         Variabel                : Variabel yang di gunakan dalam jurnal ini adalah perkembangan bisnis di Afrika dan peningkatan daya saing manufaktur di Afrika.


6.     Hasil Analisis                        
Afrika mempunyai masalah yang mempengaruhi perekenomian di Negara tersebut. Masalah yang mereka hadapi adalah dalam sector bisnis. Dikarenakan pemerintah afrika tidak mengembakan sector swasta, Afrika mengalami kenaikan biaya yang tinggi. Selain itu berdampak pada kerugian produktivitas dan daya saing manufaktur yang tinggi. Walaupun mengalami dampak negative, namun pemerinta Afrika selalu menarik investor. Oleh karena itu Afrika sering mengekspor barang-barang ke luar negeri.
Cara untuk mengatasi masalah diatas adalah:
a.      Fokus pada pengurangan biaya langsung
b.      Membangun dukungan politik yang kuat dalam negeri untuk mengembangkan sector swasta. Hal ini untuk menghilangkan persepsi bahwa tidak hanya menguntungkan minoritas dan perusahaan asing tapi juga masyarakat di Afrika
c.       Meningkatkan kepadatan bisnis
d.      Menggunakan keuntungan untuk membangun konstituensi
e.      Meningkatkan kredibilitas bisnis


6. Kesimpulan 
Jurnal ini secara garis besar membicarakan mengenai permasalahan microekonomi dan makroekonomi terhadap daya saing perusahaan manufaktur di Afrika.  Menurut sumber dalam jurnal ini, pemicu daya saing antar perusahaan manufaktur adalah biaya hidup di Afrika lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendapatan nasional dan produktivitas. Pada tahun 2000 dilakukan survey untuk penilaian iklim investasi dan dari survey ini diketahui bahawa pola produktivitas di Afrika sangat rendah. Dijelaskan pula bahwa di Afrika terdapat banyak batasan antara masyarakat biasa dan investor. Hal ini yang memicu pergerakan perekonomian di Afrika menjadi lebih lambat daripada Negara – Negara berkembang lainnya.
Selain itu di Afrika terjadi segmentasi oleh ukuran produktivitas dan etnis sehingga sulit bagi Afrika untuk mengembangkan bisnis. Hal ini memicu persaingan yang cukup ketat antar perusahaan dan membuat harga kebutuhan pokok menjadi tinggi. Bila hal ini terus terjadi maka dapat dipastikan Afrika akan selalu mengalami keterbelakangan dalam bidang ekonomi karena mereka tidak mempunyai penghasilan (income) yang tinggi karena mereka jarang melakukan investasi dan saving (menabung).